Selasa, 18 Mei 2010

PERAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP ANAK BUAH

Peran kepala sekolah dan rekan sejawat dalam menciptakan guru professional

tinggalkan komentar »

Mari kita pikirkan proses dan waktu untuk kemudian seseorang bisa lulus ilmu kependidikan dan berprofesi sebagai guru. Selama 4 sampai 5 tahun mahasiswa keguruan mengenyam pendidikan dibangku kuliah ilmu kependidikan, bahkan dengan waktu lebih singkat. Kemudian dilanjutkan dengan magang disebuah sekolah. Jika beruntung ia akan bergabung dengan sebuah sekolah atau menjadi pegawai negeri yang bersedia ditempatkan dimana saja. Tahun demi tahun berlalu, pada bayangan kita tentu seiring dengan bertambahnya masa tugas dan banyaknya pengalaman yang dilalui maka ia akan menjadi guru yang professional dan kreatif.

Jawabannya bisa ya atau tidak, dikarenakan berapa pun lamanya seorang guru melakukan praktek mengajar disekolah belum menjamin bahwa guru mampu menunjukkan profesionalismenya dalam bekerja. Banyak hal yang melatar belakangi hipotesa di atas. Seorang guru untuk bisa menjadi terampil dan professional membutuhkan faktor-faktor pendukung diluar dirinya.

Tulisan ini akan membahas peran kepala sekolah dan pengawas serta rekan sejawat dalam membentuk seorang guru yang professional. Guru memerlukan bimbingan dan arahan baik dari Kepala sekolah dan pengawas sebagai supervisor maupun dari rekan sejawat untuk melakukan upaya mengembangan kompetansi dan profesionalismenya dalam mengajar.

Dukungan rekan sejawat juga termasuk faktor luar guru yang berpengaruh. Disebabkan dukungan jenis ini akan sangat efektif untuk membantu guru melakukan refleksi terhadap kinerjanya. Ingat, guru yang berhasil dalam menerapkan proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas dapat menjadi model bagi guru yang lain. Untuk itu sekolah sebagai lembaga perlu mewujudkan lingkungan kerja yang mendorong terjadinya peningkatakan profesionalisme guru.

Bagaimana kepala sekolah sebagai pimpinan dapat melakukan program dan kegiatan pengembangan profesionalisme guru. Berikut beberapa langkah yang dilakukan:

1. Memberikan arahan tentang job description yang jelas bagi guru.
2. Menetapkan standar yang tinggi terhadap kinerja guru terutama dalam membimbing siswa belajar.
3. Mendelegasikan tugas pada guru untuk dikerjakan secara kelompok.
4. Memberikan waktu bagi staff untuk melakukan konsultasi.
5. Mendorong guru menetapkan target kerja yang akan dicapai dalam satu tahun ajaran serta membantu dalam evaluasi tengan tahun sehingga guru dapat mengetahui apakah yang mereka lakukan tetap pada koridor yang benar.
6. Menyusun program pelatihan peningkatan kompetensi guru dan melaksanakan secara berkala.
7. Mendukung upaya guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bekualitas.
8. Mendorong guru melakukan lesson study, sehingga akan terbentuk komunitas belajar diantara guru.
9. Melakukan evaluasi terhadap kinerja sekolah khususnya efektifitas proses belajar mengajar yang telah diselenggarakan mengacu pada kualitas hasil belajar siswa.
10. Memelihara konsistensi dalam melaksanakan hal ini sehingga terbentuk budaya pembelajar dan peningkatan intelektualitas guru serta penghargaan terhadap kesempatan yang diberikan lingkungan untuk selalu meningkatkan diri.

Jika hal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah, ditambah dukungan pengawas serta atmosfir positip yang diciptakan oleh rekan sejawat yang selalu berupaya mendukung, maka akan terwujud sebuah sekolah sebagai lingkungan pembelajar dan pada gilirannya nanti akan melahirkan guru yang profesional dan terampil

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar